You are here
Home > Artikel > Notulen Diskusi Emak Kekinian dengan Psikolog Senior Adriano Rusfi

Notulen Diskusi Emak Kekinian dengan Psikolog Senior Adriano Rusfi

[07-27, 7:36 PM] ‪Moderator‬:

┏🌟📢━━━━━━━━━━━━━━┓

_*Rules Open Discussion*_

_*Diskusi Emak2 kekinian*_

┗━━━━━━━━━━━━━━🌟📢┛

Agar diskusi kita lebih terarah dan penuh manfaat, kami mengajak teman-teman untuk menyepakati 10 aturan main umum dalam diskusi kita kali ini:
1. *Tidak mengeluarkan kata-kata atau pernyataan yg menyinggung secara personal atau kelompok.*
2. *Pertanyaan HARAP dijaprikan ke momod*. NO OOT alias out of topic. Jadi upayakan sebisa mungkin setiap tanggapan dan pertanyaan selalu mengarah pada topik diskusi
3. *Setiap peserta diskusi hanya boleh mengajukan 1 ( SATU ) pertanyaan saat diskusi ( boleh berbutir a,b,c dst). Selebihnya diperbolehkan setelah tidak ada peserta lain yg ingin bertanya atau saat sesi bebas.*
4. *Jika akan memberikan tanggapan, atau komentar harus meminta izin terlebih dahulu ke moderator dengan mencantumkan tanda ✋* lalu Moderator akan mempersilahkan. *Tanggapan cukup 1 (SATU) kali utk konfirmasi atau minta kejelasan dr paparan narsum, bukan mengajukan pertanyaan baru*.
5. *Pertanyaan akan dipilih oleh moderator sesuai relevansinya dgn goal diskusi.*
6. Jika sudah mengajukan diri utk memberi tanggapan, harap siap ketika dipersilahkan oleh moderator supaya tidak saling menunggu.
7. Jika orang ybs sudah selesai memberikan pemaparan silahkan berikan tanda 👌🏽 di akhir pernyataan
8. Diskusi akan diarahkan dan dimonitori oleh moderator. *Moderator berhak memberikan peringatan dan atau hukuman berupa KO (kick out) dari grup kepada peserta yg tidak mengikuti aturan dalam diskusi.*
9. *Hindari memotong narasumber yg sedang menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan baru karena akan menganggu fokus narsum serta peserta lain yg sedang menyimak.*
10. Hindari mengajukan pertanyaan yang telah ditanyakan oleh peserta lain atau sudah terjawab oleh penjelasan narasumber, demi efektifitas diskusi kita 😉

jadi… Demi kelancaran diskusi kita, harap kerjasamanya ya temans sekalian.
Asyik atau ga asyiknya diskusi ini ditentukan sendiri oleh kita 💪😃

—————————

KODE DALAM DISKUSI

☝: bertanya

✋🏼: menanggapi

👌🏽: selesai memaparkan

[07-27, 7:37 PM] ‪Moderator: yup, silakan pelajari dulu yaaah… momod mau rehat sejenak dg gembira ixixixix

[07-27, 8:03 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Assalamu alaikum

[07-27, 8:03 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Afwan telat. Baru sampai

[07-27, 8:04 PM] ‪Moderator: wa’alaykumussalaam. alhamdulillaah sudah sampai ya pak..

[07-27, 8:04 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Betul

[07-27, 8:05 PM] ‪Moderator: Silakan pak Aad memberikan pengantar ttg tema diskusi kita…

[07-27, 8:06 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Pada dasarnya bunuh diri adalah ekspresi dari keputusasaan hidup, dimana manusia tidak lagi melihat ada solusi-solusi kehidupan dalam menyelesaikan permasalahan dirinya.
Keputusasaan hidup itu seringkali lahir karena terjadinya kehampaan spiritual. Kehampaan spiritual itu pada dasarnya disebabkan karena seseorang telah kehilangan makna dan nilai dari sebuah kehidupan.
Manusia yang menganggap kehidupan ini hanya ada di dunia, maka ketika target-target duniawinya tercapai dia pun akan mengalami kehampaan spiritual. Lalu ia berpikir :

“Untuk apa aku terus menjalani hidup ini jika target-target hidupku telah tercapai”

Makanya, jangan mengherankan jika beberapa pemenang hadiah Nobel, artis-artis tenar yang kita anggap telah mendapatkan segala kebahagiaan yang dia cari dalam hidup ini, justru mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri
Kehampaan spiritual juga terjadi ketika manusia mengingkari fitrahnya, bawa mereka butuh agama, mereka butuh Tuhan, mereka membutuhkan panduan yang datang dari atas dirinya.
Ketika hal-hal tersebut tidak ada, maka fitrahnya pun mengalami dahaga. Kadang-kadang mereka tampak bahagia tapi sebenarnya hampa.
Pada masyarakat Jepang dengan tingkat bunuh diri terbesar di dunia hingga saat ini, yaitu mencapai 18,3 per 100.000 orang, bunuh diri seringkali disebabkan karena tekanan-tekanan hidup yang luar biasa, mimpi-mimpi yang berlebihan, ambisi-ambisi yang tak tertanggungkan.
Sementara disisi lain mereka kehilangan kebahagiaan hidup dan mereka kehilangan spiritualitas hidup
Remaja dan anak-anak Jepang termasuk golongan yang sangat rentan terhadap bunuh diri. Diantara penyebabnya adalah tekanan kehidupan yang luarbiasa biasa dan tuntutan kehidupan yang berlebihan. Mereka memburu Hidup, tapi anehnya tak menikmati hidup. Mereka memiliki banyak hal, tapi tak menikmati hal tersebut.
Pertanyaannya :

“Mungkinkah orang orang beragama mengalami kehampaan hidup lalu bunuh diri ?”

Maka jawabannya adalah : Mungkin. Jika aktivitas beragama yang dilakukan itu hanyalah sesuatu yang bersifat ritual, rutinitas, tanpa nilai, tanpa makna, tak didasari atas iman, hanya pembiasaan pembiasaan semata, dilakukan karena ditakut-takuti dan dengan tekanan-tekanan yang dahsyat.

[07-27, 8:08 PM] ‪Moderator: Baik, terimakasih banyak atas materi singkat dr pak Aad

[07-27, 8:09 PM] ‪Moderator: Sudah ada pertanyaan yg masuk, boleh kita bahas ya pak..

[07-27, 8:09 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Silakan

[07-27, 8:09 PM] ‪Moderator: ☝ Terimakasih Momod atas kesempatannya. Saya Aan Pambudi seorang mahasiswa. Pada kesempatan kali ini saya akan bertanya beberapa pertanyaan. Pertanyaan saya sebagai berikut:
1. Mengapa orang menyerah menjalani hidup, dan memilih untuk melakukan bunuh diri?
2. Mengapa banyak mahasiswa dan usia muda yang mencoba untuk melakukan bunuh diri?
3. Saat kita sedang depresi karena masalah yang berat atau tekanan dari lingkungan sekitar dan kepikiran untuk bunuh diri, bagaimana cara menanggulangginya ?
4. Apa yang terjadi jika seseorang gagal bunuh diri? Dan apa yang harus kita lakukan jika orang yang kita kenal selamat dari bunuh diri.
Terimakasih momod 😘

[07-27, 8:10 PM] ‪Moderator: Berondongan pertanyaan dr Aan di Yogya silakan pak Aad tanggapi secara tertulis maupun via voice note 😃

[07-27, 8:11 PM] ‪Moderator: Boleh yg mana aja yg brkenan dan memudahkan pak Aad

[07-27, 8:24 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: 1. Orang menyerah menjalani hidup seringkali tidak disebabkan karena beratnya kehidupan itu sendiri, tapi lebih disebabkan karena mentalitas nya buruk dalam menghadapi problematika hidup. Karena kita sama-sama tahu seberat apapun masalah hidup, Allah tidak pernah membebani hambanya melebihi tingkat kesanggupannya
Jadi sekali lagi, yang menjadi masalah utama bukanlah masalah hidup itu sendiri, tapi sikap seseorang dalam memahami hidup.
Saat ini telah lahir generasi-generasi yang takut hidup, karena mereka sangat berorientasi pada kenyamanan, pada kepastian, pada kejelasan, sehingga ketika dia berhadapan dengan sesuatu yang tidak pasti, peluang-peluang, kemungkinan-kemungkinan yang masih terbuka, seringkali dia tidak siap menghadapi situasi semacam itu
Itulah yang kemudian menyebabkan nya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya

2. Mahasiswa termasuk periode yang sangat rentan untuk kemungkinan bunuh diri, pertama karena kenyataannya mereka masih dalam tahap remaja, masih dalam tahap anak baru gede, sehingga walaupun secara fisik mereka sangat dewasa, namun secara mental sebenarnya mereka masih agak kekanakan
Dalam situasi yang semacam itu, mereka telah dihadapkan dengan realitas-realitas kehidupan orang dewasa, seperti mengambil keputusan, bertanggung jawab atas keputusan, mengelola waktu, mengelola perasaan dan sebagainya
Belum lagi tekanan-tekanan eksternal seperti dia sebenarnya tidak ingin memasuki jurusan anu, sementara orang tuanya memaksanya untuk memasuki jurusan tersebut
Itu menimbulkan tekanan tersendiri. Belum lagi persoalan-persoalan lain seperti persaingan dengan sesama mahasiswa l, percintaan, putus cinta dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kenapa mahasiswa termasuk periode yang rentan terhadap kemungkinan bunuh diri. Karena mentalitas nya tidak siap menghadapi kehidupan yang sepenuhnya dewasa

3. Cara terbaik untuk mengatasi keinginan bunuh diri pada mereka-mereka yang menghadapi masalah yang sedemikian berat, adalah sesegera mungkin mencari orang lain, sahabat untuk berbagi. Karena pada dasarnya orang semacam itu perlu memiliki ventilasi dan kanalisasi terhadap beban-beban yang ada di dalam dirinya
Satu hal juga yang sangat penting pada dasarnya untuk mengatasi kecenderungan bunuh diri, yaitu segera melepaskan segala beban kepada Allah
Cuma masalahnya untuk yang terakhir ini memang jarang dipilih oleh mereka mereka yang akan bunuh diri. Karena bunuh diri sendiri adalah sebuah gejala dimana manusia tidak lagi merasakan kehadiran Tuhan.

4. Bagi mereka yang gagal bunuh diri, ini sebenarnya adalah kesempatan kedua dalam hidup. Maka momen ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyadarkan bahwa Tuhan telah begitu baik, memberikan peluang kepadanya, memberikan kepadanya makna hidup, mengajarkan kepadanya nilai-nilai kehidupan itu sendiri, segera mendiskusikan dengannya kenapa dia bunuh diri, masalah apa yang dihadapi dan segera memberikan kekuatan mental dan moral kepadanya untuk menjalani hidup ini
Orang semacam ini perlu diberikan perspektif betapa indahnya kehidupan ini, betapa beruntungnya dia, karena orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang telah terbentuk menjadi berpikiran negatif terhadap hidup ✅

[07-27, 8:28 PM] ‪Moderator: Jd poinnya adalah cara kita merespon masalah, berserah diri ke Allaah, dan segera mencari bantuan ke org lain agar bs berbagi/curhat ya pak

[07-27, 8:29 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Betul. Pada intinya adalah bagaimana kita menyiapkan manusia-manusia yang bersikap positif terhadap dirinya, bersikap positif terhadap kehidupan, dan bersikap positif terhadap Allah.
Jika tiga hal itu telah dimiliki Insya Allah kehidupan ini menjadi ringan

[07-27, 8:30 PM] ‪Moderator: So, stay positive, people 😎

[07-27, 8:30 PM] ‪Moderator: Lanjut pertanyaan berikut ya pak

[07-27, 8:30 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Silakan

[07-27, 8:31 PM] ‪Moderator: Anonim di Jateng
– Saya merasa pernah mengalami masa sulit yg ekstrem karena pengaruh prasangka buruk, kesalahan, dan rasa bersalah, juga pemahaman yg terpeleset2 antara perbedaan Islam-Kristen.
Tetapi walhamdulillah saya tidak memilihnya karena saya berpikir ttg kesedihan orang tua dan organisasi yg sbnernya saya salahi, atas dasar 2 peristiwa bunuh diri yg terjadi di lingkungan studi saya (akhirnya saya berpikir seperti tambah ragu untuk pilihan ekstrem itu) dan kemungkinan harapan baik meskipun sebenernya rasanya gelap sama sekali.
Apakah Pak, rasa empati dan kasih sayang kepada org lain itu (misal org tua, dll), memang faktor mencegah juga? Tapi di sisi lain, saya sering membaca di grup2 share org barat yg berjuanh dg berbagai label disorder psychology, menolak untuk “memikirkan org lain dulu misalnya kasihan orang tua dll, karena dirinya bahkan yg paling butuh empati.”
Atau ini tergantung motivasi terdalam masing2 org sbg solusinya?

[07-27, 8:34 PM] ‪Peserta Diskusi 1 : Izin menanggapi.

Tantangan yang mencari org yg bersikap positif (plus sabar) kepada dirinya dan positif kpd kehidupan (misalnya minimal, dunia ini hopeful kok dari poin a b c dst), agak relatif sulit ya, Pak, meskipun sebenarnya ada. Karena stereotipe dan masih asing, belum yang kesadaran ttg depresi itu sesadar org Barat (US misal)

[07-27, 8:35 PM] ‪Moderator: Nanti ya teh

[07-27, 8:36 PM] ‪Moderator: Silakan pak Aad lanjut menanggapi pertanyaan lbh dahulu

[07-27, 8:36 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Saya rasa pemikiran Barat itu keliru. Orang terhindar dari bunuh diri seringkali bukan karena dia mendapatkan empati dari lingkungan, tapi justru karena kesadaran tentang lingkungan, tentang orang-orang yang dia cintai
Mari kita bayangkan misalnya seorang ibu yang putus asa terhadap hidup. Mungkin dia sudah ingin bunuh diri. Tapi dia ingat anaknya : siapa yang akan mengasuh anaknya kalau seandainya dia bunuh diri, siapa yang akan memasak masakan untuk anaknya seandainya dia bunuh diri
Belum lagi perasaan-perasaan misalnya : apa kata orang lain terhadap keluarga kita, terhadap orang tua kita seandainya kita bunuh diri. Tentunya itu akan menjadi aib bagi keluarga
Kesadaran-kesadaran sosial semacam itulah yang justru mampu membuat kita tercegah dari bunuh diri. Bukan sikap sikap individualistik yang menuntut empati dan sebagainya, sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Barat ✅

[07-27, 8:39 PM] ‪Moderator: Baik. Smg bs membantu bu/pak Anonim di Jateng

[07-27, 8:40 PM] ‪Moderator: Mari menuju pertanyaan ketiga

[07-27, 8:40 PM] ‪Moderator: Iham, Jogja
Saya sering muncul pikiran “ingin cepet mati saja” kalau sedang tak kuat menghadapi frustasi, kadang kalau di stasiun sering berpikir untuk menabrakan diri ke kereta, ketika di atas gedung kadang berpikir untuk jatuh, dsb. Namun, saya sadar bahwa kalau tidak punya iman mungkin saya benar-benar akan melakukannya. Jadi, saya hanya berpikir untuk mati tapi saya pun tau tidak akan melakukannya. Apakah hal itu wajar? Jika tidak bagaimana mengatasi pikiran2 seperti itu? Kadang jika sudah tak tahan maka saya akan merusak benda-benda. Terima kasih

[07-27, 8:48 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Frustrasi seringkali terjadi karena seseorang kurang mensyukuri karunia-karunia yang telah diperolehnya dalam perjalanan hidup ini. Fokus dirinya terlalu terarah pada masalah, pada beban, pada tekanan, sehingga dia melihat lebih banyak sisi negatif daripada sisi positif dalam hidup ini.
Sikap dalam menghadapi hidup inilah yang membuat seseorang itu frustrasi dan punya kecenderungan untuk bunuh diri. Sikap ingin bunuh diri ini walaupun tidak jadi dilakukan pada dasarnya tetap saja merupakan satu sikap yang negatif. Sehingga yang harus dilakukan ke depan adalah berbaik sangka terhadap kehidupan ini, terhadap Allah, terhadap lingkungan dan juga terhadap diri sendiri
Cobalah diingat-ingat kembali betapa banyaknya karunia yang telah kita peroleh, dan betapa sedikitnya masalah yang harus kita pikul. Seandainya sikap ini kita miliki Insya Allah jangankan ingin bunuh diri, bahkan boleh jadi kita ingin hidup seribu tahun lagi.
Ada juga orang-orang yang memiliki masalah yang begitu luar biasa, tetapi sama sekali tak terlintas dipikirkannya untuk bunuh diri
Kenapa bisa terjadi demikian ? Karena dia memikirkan orang lain, karena dia melihat di sekitarnya betapa orang lain memiliki masalah lebih banyak daripada nya, betapa orang lain lebih miskin dari padanya, betapa orang lain lebih menderita daripadanya. Dan orang lain yang dia lihat itu ternyata tidak bunuh diri
Maka banyak-banyaklah melihat ke bawah. Itu akan membuat kita mensyukuri kehidupan ini, walaupun beban kita begitu banyak. ✅

[07-27, 8:52 PM] ‪Moderator: Naaah, kuncinya di bersyukur ya pak. Di QS 30:21 itu disebutkan bahwa Allaah menundukkan langit dan bumi utk kepentingan manusia. Rasanya ga selesai2 kalo manusia mau menyukuri misal: angin, rumput, awan, butiran pasir, rasi bintang, sel tubuhnya, jaringan syarafnya, bulu matanya, dll. Ga habis2….

[07-27, 8:54 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Betul : bersyukur. Bahwa apapun yang kita derita, itu tak seberapa.
Ada sebuah anekdot tentang seorang penjual duku yang tertangkap hansip di sebuah taman, di mana orang tidak boleh berjualan di dalamnya
Hukumannya adalah buah yang dia jual itu harus ditelan bulat-bulat. Pada awalnya dia merasa menderita, merasa kecewa dan frustrasi karena dia harus menelan buah duku bulat-bulat.
Tapi tak lama kemudian dia tersenyum, sehingga hansip yang menghukumnya terheran-heran dan bertanya

“Kenapa kamu sekarang tersenyum ?

Lalu Sambil tertawa terbahak-bahak dia bilang sama hansip

“Itu lho tukang duren tertangkap”

Apa makna dari kisah ini ? Yaitu bahwa penderitaan kita akan terasa ringan ketika kita menyaksikan betapa ada orang lain yang penderitaannya jauh lebih berat daripada kita.

[07-27, 8:57 PM] ‪Moderator: Kalau bersyukur ya bersyukur aja, tanpa harus membandingkan dg yg lain bisa jg kan ya pak heheheh…. Soale kadang yg kita anggap lbh menderita dr kita, ternyata ga merasa menderita hehehe justru bahagia dg keadaan diri nya… 😄

[07-27, 8:59 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Sebaiknya begitu l. Tapi nggak salah juga jika rasa syukur itu terbangkit ketika kita mencoba membandingkan diri kita dengan orang yang lebih tidak beruntung daripada kita
Itulah yang diistilahkan oleh orang-orang tua kita dulu dengan istilah *melihat ke bawah*

[07-27, 9:00 PM] ‪Moderator: Iya, spy kita tetap rendah hati jg ya pak..

[07-27, 9:01 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Nah, rasa syukur itu akan lebih meningkat lagi ketika kita menyadari bahwa orang yang kita anggap jauh lebih menderita dari kita sekalipun justru mereka menganggap diri mereka bahagia
Maka betapa malunya kita kepada Allah

[07-27, 9:01 PM] ‪Moderator Yup! Kena banget tuh 😃
Kita meluncur ke pertanyaan lain ya

[07-27, 9:02 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Silakan

[07-27, 9:02 PM] ‪Moderator : Ai Komariah-Tasikmalaya
Saya menemui fenomena beberapa orang yang kerap menyakiti diri dengan menyayat lengan dan kadang sesumbar ingin bunuh diri di masa mudanya dengan berbagai alasan. Apakah hal yang sama bisa terulang saat ia menjadi orang tua? Dan bagaimana mengantisipasi agar hal yang sama tak terulang atau bahkan berubah jadi menyakiti orang lain yang dianggapnya tak berdaya?

[07-27, 9:08 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Secara psikologi, orang yang mengancam ingin bunuh diriz bahkan beberapa kali mengancam ingin bunuh diri, tidak sama dengan orang yang benar-benar punya kecenderungan untuk bunuh diri
Orang yang mengancam ingin bunuh diri pada dasarnya adalah orang-orang yang ingin menarik perhatian dan belas kasih lingkungan terhadap dirinya. Dia sebenarnya tidak ingin bunuh diri, tapi sekedar mengancam lingkungan agar lingkungan melakukan sesuatu terhadap dirinya.
Orang-orang semacam ini pada dasarnya ketika di usia dewasa pun kecil kemungkinan untuk benar-benar melakukan tindakan bunuh diri. Orang semacam ini sebenarnya punya kecenderungan untuk menyandera orang lain.
Maka dalam dunia psikologi orang semacam ini justru diterapi dengan logoterapi yang bernama paradoxical intention. Ketika dia datang kepada seorang psikolog dan berkata ingin bunuh diri maka psikolog tersebut justru akan berkata kepadanya :

“silakan..”

Tapi tentunya hal ini harus dilakukan oleh ahlinya ✅

[07-27, 9:10 PM] ‪Moderator: Wah uraian ini sepertinya berkataitan erat dg pertanyaan berikut pak. Sebentar…

[07-27, 9:12 PM] ‪Moderator :

☝Anissa, Kalsel
1. Bagaimana menghadapi atau menyikapi orang yang mengatakan ingin bunuh diri
2. Apakah mgkin orang yg mengancam bunuh diri untuk mencari perhatian?jika iya,bgmn menyikapi dan bagaimana membedakannya dg orang yg benar2 ingin bunuh diri?

☝Wulan ,Tangerang
Ibu dari 1 anak (5bln)
Bagaimana cara menghadapi seseorang yang mengancam akan bunuh diri jika kepenuhannya tak di penuhi?
Terimakasih momod dan pak Narsum

[07-27, 9:12 PM] ‪Moderator: Silakan pak jika ada yg hendak dijelaskan lbh detil

[07-27, 9:22 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Pada dasarnya orang-orang yang benar-benar ingin bunuh diri, tidak akan pernah bercerita kepada orang lain bahwa dia ingin bunuh diri. Dia akan melakukannya secara diam-diam, rapi, tapi penuh dengan keputusasaan.
Jadi, kalau ada orang yang mengancam bunuh diri, atau setiap ada masalah sedikit-sedikit berkata

“aku mau bunuh diri

maka orang tersebut kecil kemungkinannya untuk bunuh diri. Walaupun saya tidak berani mengatakan 100% bahwa dia mustahil bunuh diri.
Jadi, pada mereka-mereka yang terlalu sering menyampaikan ancaman ingin bunuh diri, maka langkah pertamanya adalah memberikan nasehat kepadanya. Namun jika nasehat-nasehat tersebut tak mempan, dan dia masih saja menyatakan ingin bunuh diri, maka jika kita yakin kita bisa mengatakan padanya

“Ya silakan…”

Jadi, sekali lagi, seseorang yang berkali-kali mengancam orang lain bahwa dia akan bunuh diri jika keinginannya tak dipenuhi, pada dasarnya dia bukan sekedar ingin mendapatkan perhatian orang lain, tapi dia juga ingin menyandera orang lain
Siapa orang yang mudah tersandera oleh ucapan-ucapan dan ancaman seperti ini ? Yaitu orang-orang yang terlalu percaya kepada ancaman.
Jika kita memenuhi ancaman-ancaman semacam ini, maka di masa yang akan datang dia akan selalu saja menggunakan ancaman yang serupa untuk memenuhi keinginannya
Artinya, ketika orang yang mengancam ingin bunuh diri itu kita penuhi permintaannya, maka kita sendiri telah ikut berperan untuk memperkuat tabiatnya yang negatif tersebut.
Jadi sekali lagi kita sebagai pihak sehat yang menjadi sumber ancaman dari hal yang semacam ini, harus berani bersikap tegar dan tegas.
Kalau toh ternyata dia membuktikan ancaman tersebut benar-benar bunuh diri, percayalah Allah tidak akan mempersalahkan kita dengan keputusannya itu. Jadi janganlah mudah menjadi manusia yang tersandera ✅

[07-27, 9:25 PM] ‪Moderator: Langkah yg bs kita lakukan: bersikap tega, tegar, tegas 💪

[07-27, 9:25 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: 👍👍
Tentunya dengan minta petunjuk Allah

[07-27, 9:26 PM] ‪Moderator: Siap pak

[07-27, 9:26 PM] ‪Moderator: Saatnya ke pertanyaan di bawah ini 👇

[07-27, 9:26 PM] ‪Moderator:
saya Meika, ibu bekerja dgn 2 orang anak. waktu saya kecil, sebelum usia datang bulan, saya pernah berpikir, _apa aku bunuh diri aja ya? dosaku masih ditanggung mama papa, kalo udh haid nanti aku nanggung sendiri dosa dan masuk neraka_
pikiran seperti itu sering muncul tp hanya sebatas semacam “ide” saja tanpa tidak lanjut. saya ngga ada masalah dgn orang tua waktu kecil sampai skrg. keluarga jg rukun. yg ingin saya tanyakan,
1. wajarkah seorang anak berusia dibawah 11 tahun berpikir seperti itu?
2. apa kira2 hal yg menyebabkan saya berpikir seperti itu dan apakah akan berdampak dgn emosi saya sekarang di usia 27 tahun?

[07-27, 9:29 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Saya rasa itu adalah gabungan antara problematika yang Ibu hadapi diwaktu kecil + imajinasi imajinasi liar seorang anak kecil yang tercetus tiba-tiba.
Biasanya letupan kecenderungan yang muncul seperti itu insya Allah tidak akan berpengaruh negatif terhadap emosi seseorang saat dia telah mencapai usia dewasa ✅

[07-27, 9:30 PM] ‪Moderator: Alhamdulillaah, jd bu Meika di Palembang in syaa Allaah tdk perlu kuatir ya

[07-27, 9:30 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Sudah bisa kita cukupkan sampai di sini dulu ?

[07-27, 9:31 PM] ‪Moderator: Masih ada sekitar 6 pertanyaan lg pak

[07-27, 9:32 PM] ‪Moderator: Tp jika pak Aad sudah mencukupkan, admin manut 😀

[07-27, 9:32 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Satu pertanyaan lagi deh. Soalnya masih ada tugas yang harus saya selesaikan

[07-27, 9:32 PM] ‪Moderator: Baik

[07-27, 9:33 PM] ‪Moderator: Tutu di Jkt
Bagaimana menghadapi depresi akibat malu karna aib yg disebabkan adanya kerabat yg meninggal krn bunuh diri? Selain malu juga adanya perasaan gagal menghalangi dia dr perbuatan bunuh diri? Dan apakah bunuh diri itu adalah takdir kematiannya ataukah sebenarnya ada jalan lain?

[07-27, 9:39 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Pada dasarnya Allah tidak akan membebani seorang hamba melebihi kesanggupannya. Di akhirat kelak kita tidak akan menanggung perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, apalagi jika kita telah berusaha memberi nasehat dan menggagalkan upaya-upaya untuk bunuh diri. Sehingga yang dilakukan pada dasarnya sudah cukup
Tentang kematian, kematian itu sendiri adalah takdir. Dia tidak bisa dimajukan sesaat dan juga tidak bisa dimundurkan walau sedetik
Namun cara seseorang mati itu adalah pilihannya sendiri. Dia telah Allah takdirkan untuk mati pada tanggal tertentu, maka pada tanggal tersebut dia pasti akan mati. Masalahnya adalah : dengan cara apakah dia akan mati pada tanggal tersebut ? Apakah dengan cara baik-baik, dengan cara sedang beribadah kepada Allah, atau dengan cara bermaksiat serta berputus asa dari rahmat Allah, yang disebut dengan bunuh diri ? Itu sepenuhnya adalah pilihan kita
Allah tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban atas tanggal kematian kita. Tapi Allah akan meminta pertanggungjawaban atas jalan kematian kita : husnul khatimah atau su’ul khatimah ✅

[07-27, 9:41 PM] ‪Moderator Jangan berputus asa pd Kasih Sayang Allaah dan smg kita wafat dg husnul khatimah

[07-27, 9:41 PM] ‪Moderator Baik, terimakasih atas kesediaan waktu pak Aad utk mjd narsum yg sgt bijaksana 😄

[07-27, 9:41 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Aamiin

[07-27, 9:42 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Sama-sama. Semoga bermanfaat

[07-27, 9:42 PM] ‪Moderator Smg mjd amal shalih dan amal jariyah 😇

[07-27, 9:42 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Aamiin

[07-27, 9:43 PM] ‪Moderator Silakan pak Aad beristirahat atau melanjutkan agenda yg lain dg gembira ya pak 😆

[07-27, 9:43 PM] ‪Bapak Adriano Rusli: Syukran
Assalamu alaikum wr wb

Top